LELAKI PADA USIA 25 TAHUN





    

Juni 2005

Entah darimana dan kapan mulai muncul angka 25 tahun sebagai standar usia yang tepat bagi seseorang untuk menikah. Rasanya aku ingin memprotes siapa pun yang menetapkan standar itu kepada masyarakathingga melekat turun-menurun. Karena itulah, batas usia 25 tahun juga memengaruhiku sejak duduk di semester akhir kuliah. Ya, mungkin karena standar maksimal seorang perempuan menikah dalam keluarga adalah 25 tahun. Usia yang mereka sebut ideal.

Di sela mengoreksi hasil penelitian skripsi yang tertunda hampir setahun karena mencari biaya untuk kuliah sekaligus menambahkan uang belanja di rumah, Emak sempat mengingatkanku. Seingatku, pembicaraan itu dimulai dari kabar pernikahan tetanggaku.

“Minggu besok anak Bu Susanto yang rumahnya dekat Yayuk tukang sayur mau menikah. Kata Yayuk, dia seumuran sama lo,” ucap Emak sambil mengulek bumbu dapur yang sudah siap ulek di cobek. Aku yang sedang mengiris cabai untuk menambahkan perbumbuan itu melirik dari ujung mataku.

“Yayuk tahu dari mana, Mak?”

“Sumber dari segala sumber pergosipan di RT kita itu ‘kan Yayuk. Kaya baru tau aja,” ucap Emak sambil memasukkan sepotong terasi ke dalam cobek.

“Hmmm…,” aku hanya bergumam menjawab tanpa kata. Emak gantian melirikku yang ada di sampingnya.

“Emang belum ada cowok yang bisa diajak ke rumah?” tanya Emak penasaran dengan logat Betawinya yang medok.

Aku menggeleng. “Mikirin skripsi aja udah penuh kepala, Mak. Males tambahin mikirin cowok,” jawabku sekenanya sambil memasukkan cabai ke dalam cobek.

          Kala itu, sebenarnya aku dekat dengan seseorang di kampus. Teman seangkatanku, namun berbeda jurusan. Aku mengambil Jurusan Bahasa Indonesia, sedangkan ia merupakan mahasiswa Jurusan Seni Musik. Jurusan kami bertetangga dan lucunya, ia adalah mantan gebetan[1] sahabatku di kampus.

Namun karena lelaki batak bermarga Nainggolan itu terlalu ‘dingin’ kepada sahabatku, akhirnya sahabatku berpacaran dengan lelaki lain dari Jurusan Pendidikan Olahraga yang semarga dengannya. Mereka bertemu ketika melakukan Praktik Pengalaman Lapangan di sebuah sekolah swasta di Jakarta Timur. Sementara aku, memundurkan waktu PPL-ku karena kesibukanku mengajar privat untuk menambah biaya kuliah. Pada akhirnya, aku justru dekat dengan lelaki berambut gondrong bermarga Nainggolan itu. Kami sering pulang kuliah atau sesekali ke perpustakaan bersama atau kadang ngobrol bareng di Kansas (Kantin Sastra) yang tak jauh dari jurusan kami berdua.

“Heh Mei, jangan-jangan lagi ada cowok yang dipikirin ya?” tembak Emak mengagetkanku. Aku terkaget dan langsung beralih ke wastafel untuk membersikan talenan dan pisau.

“Inget umur udah 21, bentar lagi 25,” ujar Emak sambil mengeruk sambal yang selesai ia ulek. Aku cuma mengangguk lemah.

Pikiranku jauh melayang pada lelaki berambut gondrong bermarga Nainggolan itu. Tak mungkin, aku bertanya pada lelaki manis berlesung pipi dan tinggi semampai itu tentang pernikahan, sementara aku belum bisa melabeli apa-apa pada hubungan kami, selain label pertemanan. Lagipula rasanya memang tak mungkin aku memberi status pada hubungan kami karena terlalu banyak perbedaan di antara kami dan yang paling akan digarisbawahi sama Emak, tentu saja; perbedaan agama.

“Cari cowok yang sholat lima waktu dan mau kerja itu aja,” cerocos Emak yang sedari tadi berbicara, namun luput dari pendengaranku karena pikiranku yang asik sendiri. “Nah ‘kan baru saja diomongin,”  ucapku dalam hati.

“Ingat perempuan itu bagusnya nikah umur 25, kalau lewat…”

“Udah, udah. Mei paham nikah kudu umur 25. Emak doain aja deh,” tukasku meninggalkan dapur dan Emak yang sudah menumis sambal tadi.

***

Sejak hari itu hingga aku berusia 26 tahun, akhirnya Emak tak lagi menyebut angka 25 tahun sebagai standard. Berbelas tahun kemudian, standard itu kutemukan dalam berita yang kukoreksi yang membahas mengenai fenomena pernikahan dini di Indonesia. Bahkan BKKBN[2] mencanangkan usia 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki sebagai usia terbaik untuk menikah. Konon mereka telah melakukan sejumlah penelitian baik dari aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi yang akhirnya menuju pada kesimpulan, yakni usia terbaik bagi perempuan untuk menikah adalah 21 tahun. Pikiranku melayang pada diriku yang berusia 25 tahun. Kala itu, aku hidup sesuai dengan mimpiku menjadi penulis. Aku menjadi asisten penulis skenario serial—atau orang lebih kenal dengan sebutan sinetron (sinema elektronik) kala itu. Tubuhku tiba-tiba bergidik mengingat memori itu.

November 2008

Barangkali itu pekerjaan paling gila yang pernah kulakukan selama 25 tahun aku hidup. Hampir 14 jam sehari harus kuhabiskan dengan menulis skenario setiap hari. Ya, setiap hari! Bahkan penulis utama skenario itu memberikan kami satu rumahnya untuk dijadikan kantor sekaligus tempat tinggal. Semua agar suplai skenario tidak terhenti karena skenario yang kami kerjakan memang merupakan sinetron kejar tayang dengan rating bagus. Kegilaan itu semua belum terlihat ketika aku pertama kali melakukan wawancara. Sebagai fresh graduate, aku tergoda ketika membaca lowongan yang mereka muat di kolom iklan loker harian ternama nasional.


Sebagai alumni yang mencari pekerjaan di luar dari gelar sarjana pendidikan, iklan loker itu menggodaku. Apalagi sudah hampir dua bulan aku menganggur setelah perusahaan tempatku bekerja sebagai penulis lepas gulung tikar. Beban yang kupikul sebagai anak sulung untuk menjadi tulang punggung keluarga menggerakkanku untuk mengirimkan lamaran pekerjaan. Dan di sanalah aku bertemu dengannya.



(InsyaAllah bersambung ya...)


[1] Diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia: Gebetan /gébétan/ n seseorang yang sedang ditaksir atau disukai.

[2] BKKBN; Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


 

Komentar

Postingan Populer